USUL / SARAN MASYARAKAT
Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat Pagi
Perkenalkan nama saya Ganes, salah satu mahasiswa Universitas Brawijaya yang berasal dari blitar.
Disini saya ingin memberikan masukan terhadap pariwisata di kota Blitar.
Tanggal 7 November 2018 kemarin, salah satu komika nasional berkunjung ke kota Blitar untuk mempromosikan salah satu karya filmnya.
Dia menginap di Hotel Tugu dan menurutnya kesan yang didapat dari hotel tersebut adalah kurang. Nilai historisnya memang kental, namun sayangnya kurang bagus dalam mengemas sehingga terlihat kurang nyaman bagi pengunjung.
Setelah itu dia mengunjungi Makam Bung Karno, memang dia datang disana pada saat malam hari dan kondisi sudah tutup. Tapi karena mereka adalah rombongan artis, oleh pihak petugas akhirnya diberikan akses khusus. Sayangnya, saat masuk ke makam, suasananya gelap gurita, jadi alangkah baiknya jika dikompleks makam diberikan lampu agar jika suatu saat ada kejadian serupa, pengunjung khusus bisa menikmati ziaroh meskipun di malam hari, jikalaupun biaya operasional lampu besar, bisa diakali untuk menyalakan lampu hanya saat ketika ada pengunjung khusus seperti Pandji Dkk kemarin lusa. Saya yakin, hal ini pasti akan memberikan kesan positif kepada mereka.
Selain itu, kekecewaan Pandji ditambah ketika dia membeli souvenir Bung Karno. Dia menganggap bahwa kualitas souvenir kurang memuaskan karena bentuk yang tidak detail dan tidak mirip sekali. Padahal, menurutnya diluar negeri museum-museum historial selalu membuat souvenir dengan kualitas tinggi, kenapa? tujuan souvenir adalah untuk memberikan kenangan bahwa mereka sudah pernah mengunjungi tempat tersebut, sehingga mereka akan selalu teringat ketika melihat souvenir yang pernah mereka beli ditempat yang pernah mereka kunjungi.
Saya rasa perlu adanya pembinaan terhadap penjual-penjual souvenir disekitar kompleks bung Karno, harus ada standarisasi nya. Saya sebenarnya paham, mereka membuat souvenir yang low quality karena sasaran penjualan mereka adalah pengunjung lokal. Namun bagaimana jika ada pengunjung dari daerah lain atau bahkan pengunjung dari negara lain?
Tentu akan menimbulkan kesan buruk ketika mereka mendapati barang yang mereka beli ternyata standartnya kurang bagus. Sehingga saya rasa memang perlu membuat sentra souvenir yang terpadu seperti toko souvenir Joger di Bali misalnya.
Dan terakhir, saya sering mendapat cerita dari kawan-kawan saya yang kemarin berlibur ke makam Bung Karno. Jalan Paving untuk pedestrian kan dikhususkan untuk para pejalan kaki, lantas kenapa masih ada motor yang diperbolehkan lewat? Mereka berpikir ini mengganggu dan membahayakan pejalan kaki. Harus ada aturan tegas agar motor tidak masuk ke halaman paving/pedestrian.
Sekira nya berkenan, berikut saya lampirkan link saat pandji menceritakan perjalanan nya di Kota Blitar.
https://www.youtube.com/watch?v=wVmVxhTSq5E
Sekian masukan dari saya, semoga kelak bisa menjadi bahan evaluasi kota Blitar sehingga pariwisata menjadi kian maju.
Terima Kasih,